Hadirnya media sosial memang membawa kita pada komunikasi yang lebih mudah. Namun apakah bisa dibilang seperti itu?? Tentu tidak. Kalo saya liat yaa, pasti kalian juga . ketika kita nongkrong dengan teman di suatu tempat, atau kuliah atau sedang apalah. Nah pasti kalian tau kalo kita itu ternyata sibuk dengan handphone sendiri. dan akhirnya menimbulkan anti-sosial. Karna kurangnya berinteraksi di dunia nyata.

Jadi apakah benar ketagihan pada sosial media menjadi kita anti-sosial ?

Saya pertama akan memberitahu dulu apa itu anti-sosial. Anti sosial adalah gangguan bagi kepribadian yang bentuknya menghindari hubungan dengan orang lain dan tidak menunjukan banyak emosi. Itu menurut pakar psikologis. Namun yang biasa kita tau pada kehidupan sehari – hari, anti sosial ini biasanya berada pada sosial media. Yaitu orang – orang yang lebih aktif di sosial media atau dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata.

Ini ada kisah dari peneliti untuk membuktikan apakah benar media sosial itu membuat kita menjadi malas untuk bersosialisasi. Studi menunjukan bahwa orang – orang banyak menghabiskan waktu untuk media sosial, dan pastinya minimal 2 – 3 kali untuk membuka akun media sosialnya. Itu masih dalam bentuk wajar sih menurut saya.

Shannon Poppito, seorang psikolog di Dallas mengatakan bahwa seseorang menghabiskan banyak waktu untuk sosial media, mereka memilih hubungan dari dunia nyata. Dan akhirnya justru merasa kurang terhubung dengan diri mereka sendiri. dan terus terlibat dengan kehidupan orang lain di dunia maya. Lalu mereka mulai membanding – bandingkan dirinya dengan apa yang ada di sosial media. Sehingga hal itu akan mengakibatkan terjadinya penekanan, dan rasa minder pada dirinya. Akhirnya seperti itu.

Lalu bagaimana cara kita agar tidak menjadi anti-sosial ??

Dr. Poppito mengatakan media sosial sangat mempengaruhi perkembangan psikologis dan sosial seseorang, khususnya mulai usia anak – anak. Dimana seharusnya anak – anak membutuhkan sosialisasi di dunia nyata seperti bermain dan bergabung dengan usia yang sebaya.

Lalu Dr. Poppito menyarankan untuk orang tua, agar membatasi anaknya dalam bermain sosial media semenjak dini. Karna ketika asyik dan terpengaruh sosial media. akan membuatnya anti-sosial. Dan jaga hubungan dengan dunia nyata dan berinteraksi dengan orang lain. Setidaknya saling menyapa dan mengucapkan salam kepada keluarga, teman dan orang lain tentunya di dunia nyata.

Pendapat saya, mungkin yang harus diperhatikan adalah anak – anak yang lahir di tahun 2000 keatas, karna mereka sudah dihadirkan dengan sosial media yang kian canggih ini.  Beda dengan kelahiran 90 keatas dimana mereka masa anak – anaknya masih bermain mainan tradisional bersama teman – temannya.

Seperti petak umpet, petak jongkok, bentengan, apalagi coba anak 90an pasti tau nih. Terus kalo dulu main masih Playstation 1 atau 2 kan ? belum ada tuh PS 3 dan PS 4.

Tapi kalo kita liat dari 2 sisi lain sosial media memang memilki pengaruh positif, yaitu menjaga hubungan dengan teman lama, keluarga, bahkan siapapun yang belum kenal jadi kenal. Namun cara penggunaannya yang terkadang disalahgunakan oleh orang – orang ini.

Seperti autis aktif sosial media terus, update snapgram terus, posting alay, ngejudge negative, dan gossip sana sini, apalagi nyebarin info hoax, dll.

Sekian dari informasi dampak sosial media. byee